Home / Otonomi | |||||||||
Overstay-Masuk Ilegal, Malaysia Deportasi 150 PMI dalam Sepekan Lewat Dumai Jumat, 28/02/2025 | 20:17 | |||||||||
![]() | |||||||||
Malaysia deportasi 150 PMI dalam sepekan lewat Pelabuhan Dumai (foto/detik) PEKANBARU - Malaysia kembali mendeportasi 150 Pekerja Migran Indonesia (PMI) dalam kurun waktu sepekan. Pemulangan ratusan pekerja ini dilakukan karena mereka terbukti melanggar aturan imigrasi, yakni overstay atau tinggal lebih lama dari izin yang diberikan, serta masuk ke Malaysia tanpa izin yang sah. Kepala Balai Pelayanan dan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Riau, Fanny Wahyu Kurniawan, menjelaskan bahwa para PMI tersebut dipulangkan setelah menjalani proses hukum di Malaysia. Sebagian besar dari mereka berasal dari Sumatera Utara. "PMI yang dipulangkan terbanyak masih dari Sumatera Utara," ujar Fanny pada Jumat (28/2/2025). Proses deportasi dilakukan secara bertahap, dimulai dengan 55 orang, kemudian 46 orang, dan selanjutnya 49 orang yang dipulangkan dalam minggu ini. Dengan demikian, total ada 150 PMI yang dideportasi melalui Pelabuhan Dumai dalam sepekan terakhir. Fanny juga menyampaikan bahwa pada awal Ramadan nanti, sebanyak 49 PMI lagi diperkirakan akan dipulangkan. "Awal Ramadan kami juga akan menerima kepulangan 49 PMI. Jadi total kepulangan dalam sepekan ini sebanyak 150 orang," tambahnya. Menurut catatan BP3MI, PMI yang dipulangkan berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Nusa Tenggara Barat (NTB). "Untuk 46 orang yang dipulangkan saat ini tercatat, 22 orang berasal dari Sumatera Utara, 10 orang dari Aceh, dan 5 orang dari Jawa Timur. Selain itu, ada juga pekerja dari Bengkulu, Jambi, Kalimantan Selatan, Riau, Jawa Barat, NTB, dan Sumatera Barat, masing-masing satu orang," ungkap Fanny. Ia juga menjelaskan alasan utama pemulangan pekerja migran tersebut. Sebagian besar mereka terpaksa dideportasi karena melanggar peraturan imigrasi, seperti masuk ke Malaysia tanpa dokumen yang sah atau menggunakan paspor untuk tujuan wisata, namun kemudian bekerja secara ilegal. Beberapa dari mereka bahkan telah berada di Malaysia sejak 2013 atau 2015, namun baru dipulangkan sekarang setelah terdeteksi melakukan pelanggaran overstay. "Beberapa pekerja ada yang masuk tanpa dokumen yang sah, ada juga yang menggunakan paspor untuk melancong, tetapi malah bekerja di sana. Ada juga yang sudah tinggal lebih lama dari izin yang diberikan, mulai dari tahun 2013 atau 2015, dan baru dipulangkan sekarang," jelas Fanny dikutip dari detiksumut. Dia menambahkan bahwa usia rata-rata pekerja yang dideportasi berkisar antara 30 hingga 50 tahun. Pemulangan ini diharapkan dapat memberi pelajaran bagi pekerja migran agar lebih berhati-hati dalam mematuhi peraturan imigrasi negara tempat mereka bekerja. (*) |
|||||||||
![]() ![]() |

HOME | OTONOMI | POLITIK | EKONOMI | BRKS | OTOMOTIF| HUKRIM | OLAHRAGA | HALLO INDONESIA | INTERNASIONAL | REDAKSI | FULL SITE |
Copyright © 2010-2025. All Rights Reserved |